16 Jun 2011
Kenangan Yang Lalu
Aku sendiri dalam lamunan dengan dihiasi cahaya bintang yang bertaburan di angkasa. Malam ini tak ada seorang pun kawan yang menemaniku. Aku rasakan hampa malam minggu ini. Biasanya malam minggu selalu ada kawan yang menemani. Dia adalah Ahdi selama setahun lebih terakhir ini selalu datang untuk menghilangkan rasa sepi. Tak terasa dari sudut mataku keluar cairan bening, saat ingatanku melayang pada minggu lepas. Pertengkaran itu tak dapat dihindari. Kata-kata yang seharusnya tak kuucapkan padanya tanpa sengaja terkeluar dari mulut. Sebuah perkataan yang tak di inginkan oleh setiap insan itu adalah “CLASH”. Kata yang menghancurkan semua kenanganku dengannya. Aku tidak tahu mengapa harus terlontar perkata itu, saat itu aku benar-benar marah kepadanya padahal alasan yang aku ucapkan untuk mengakhiri hubungan itu tidak jelas sama sekali.
“Ahdi, Aku nak gtau ni!” kataku malam itu
“Kamu nak gtau pa ye?” jawab Ahdi
“Aku tak suka dengan cara Kamu yang begitu, kamu pikir Aku apa?” tanyaku dengan nada marah waktu itu
“Maksud Kamu apa? Aku tidak faham.”Ahdi balik bertanya
“Kenapa Kamu menyakiti Aku? Kenapa Kamu harus dengan wanita lain di belakangku?”
“Apa maksud Kamu ni? Aku tidak pernah mengkhianatimu, Aku sayang sangat dengan Kamu.” jawab Ahdi
“Ahdi, berapa kali Aku nak tanya dengan Kamu ye?. Aku paling tak suka dengan orang yang suka berbohong. Aku Cuma nak Kamu jujur dengan apa yang telah Kamu lakukan.
Saat aku bertanya hal itu. Ahdi seakan-akan tak mampu untuk bicara. Apatah lagi saat aku putuskn bahwa keputusan yang ku ambil adalah mengakhiri semua hubungan dengannya. Saat itu ku beranikan untuk menatapnya. Kulihat cairan bening di sudut matanya, tapi dia berusaha untuk menyembunyikannya. Namun Ahdi tak dapat menyembunyikan kesedihannya, walaupun ia sudah berusaha. Wajahnya tidak dapat membohongi kalau sebenarnya ia merasakan kesedihan yang sangat dalam.
“Eira, bererti hubungan yang telah kita bina selama ini tidak ada ertinya bagimu?”tanya Ahdi saat keheningan mulai menghinggapi suasana.
“ Kamu bersalah Ahdi! Kamu telah menyakiti aku, kamu mengkhianati aku. Jadi lebih baik kita akhiri semuanya, kerna aku tidak ingin ada lagi pengkhianatan di antara kita.”jawabku
“Eira, padahal kamu tahu bahwa aku tidak pernah menyakiti. Aku tahu bahwa engkau sudah tidak menyintaiku, sehingga kamu ingin melupakanku dan mencari penggantiku.” kata Ahdi dengan pelan
“Keputusan sudah aku ambil, jadi tidak ada yang bisa menggangu gugat. Lebih baik kamu pulang sekarang juga, aku sudah tidak mau melihat wajahmu lagi.” kataku dengan nada marah dan langsung saja aku masuk ke rumah.
Saat aku sampai di kamar, aku tumpahkan semua kesedihanku. Aku sedih mengapa hal ini harus terjadi, padahal semua orang kata bahwa Ahdi adalah seorang yang baik. Seharusnya aku bangga mempunyai kekasih seperti Ahdi, kerna ia selalu ada setiap aku memerlukannya. Ahdi adalah insan yang istimewa, kerna ia selalu saja meredakan setiap marah dan menyedarkan aku tentang semua hal. Saat aku sedang menumpahkan semua kesedihanku, tiba-tiba terdengar suara Mama mengejutkan lamunanku.
“ Eira, ada ,telepon dari kawanmu!!!!”teriak mama
“Iya Ma sebentar!!!”jawabku sambil menyeka air mataku dan langsung mengangkat gagang telepon yang ada di kamarku
“ Hello!!!”terdengar suara dari seberang
Untuk menjawab telepon itu aku mulai ragu, kerna aku mengenal betul suara itu. Suara itu tak lain adalah suara Ahdi, akhirnya aku putuskan untuk menjawab telepon itu walaupun aku harus berbicara sewajarnya.
“Hello, ini sapa ya?” tanyaku seakan-akan lupa akan suara yang selalu ku dengar dan membuatku bahagia.
“ Kamu sudah lupa sama aku?”
“Aku lupa, siapa ya?
“Aku Ahdi. Aku tidak tahu, kenapa kamu tidak mau dengar penjelasanku lagi. Apa yang membuatmu berkata begitu? sehingga kamu benar-benar benci aku?”
“ Sudahlah Ahdi, lupakanlah semua termasuk aku. Tak ada gunanya kita pertahankan semua kalau tidak ada kesetiaan di antara kita.
”Kamu menangis Eira?” tanya Ahdi
Aku sangat terkejut saat Ahdi berkata hal itu, padahal aku sudah berusaha menyembunyikan kesedihan agar Ahdi tak pernah tahu.
“Tidak?”jawabku
“Jangan bohong dengan aku Eira! Aku tahu kamu sebenarnya masih sayang dan aku pun tahu kalau kamu sebenarnya percaya dengan aku yang aku tidak pernah mencintai orang lain” kata Ahdi
“Krak.”
Akupun langsung menutup gagang telepon itu, kerna aku tak ingin membuat hal ini menjadi keruh. Akhirnya tangisan Aku pun meratapi semua yang terjadi.
“Maafkan aku Ahdi! Aku telah menyakitimu, aku sebenarnya masih sangat menyayangimu. Aku tidak ingin berpisah denganmu tapi apa boleh di kata aku ingin memlihat sahabatku bahagia. Disatu pihak aku sangat menyayangimu, tapi dipihak lain aku harus meninggalkanmu demi sahabat baikku. Sahabatku dan sekaligus bekas kekasihmu yang sedang sakit dan ia ingin agar aku melepaskan dan membiarkanmu kembali padanya, kerna ia masih sayangkan kamu. Aku juga merasakan hal yang sama seperti yang kamu rasakan, kerna aku juga sayang sangat denganmu. Aku telah mengatakan hal yang sebenarnya tidak pernah kamu lakukan, itu aku lakukan agar kamu dapat melupakan dan meninggalkanku”.
Saat jam dinding telah menunjukan pukul 12 malam aku baru saja tersadar dari lamunanku yang panjang. Kenangan bersama Ahdi seakan-akan melekat dalam hatiku, tapi aku tahu kini Ahdi telah kembali pada Sakina. Akupun berusaha memejamkan mataku untuk mengejar mimpiku yang telah hilang dan tinggal kenangan.
Keesokan harinya ku temukan sebuah surat di ruang tamu yang tertulis buat aku. Saat aku membuka surat itu,dan membaca isinya:
Aku telah mengembara ke hujung dunia, mencari cinta Aku.. Tapi pertama kali bertemu Kamu, hati Aku terus terpaut.. Demi Tuhan, Aku tak tahu kenapa.. Tapi itulah kebenarannya..
Aku telah menolak Kamu.. Tapi Kamu mencabar Aku dengan kejujuran Kamu.. Kamu tahu yang Kamu tidak bertepuk sebelah tangan.. Dan Kamu berjanji, Aku bukan salah seekor dari kupu-kupu perhiasan di dinding kamar Kamu..
Hanya dengan sebuah renungan, Aku jatuh tersungkur ke penjuru mata Kamu.. Semakin mengenali Kamu, Aku tak dapat lagi membohongi perasaan Aku, bahawa Aku menyayangi Kamu.. Bersama masa, perasaan sayang ini menjadi dewasa.. Dewasa menjadi cinta..
Dan saat Aku mencintai Kamu, Aku jatuh ke dasar perasaan yang paling dalam.. Lemas dan hampir tenggelam, dalam lautan kasih sayang, seribu impian.. Dan Aku mula terfikir.. Aku mengembara ke hujung dunia, mencari Kamu.. Rupanya Kamu ada di sisi Aku selama ini.. Dan baru Aku sedari, tika dan saat itu..
Bagai merpati putih, cinta Aku berkelana, mencari singgahsana di hati Kamu, untuk bertakhta.. Dan telah nyata, Aku tak temui, noktah cinta itu..
Tapi akhirnya, bila Kamu telah memiliki cinta Aku, Kamu mencampakkannya jauh ke dasar laut yang tak mampu Aku selam.. Di sana, Aku tak mampu melihat cahaya.. Kamu beri Aku harapan yang sangat besar.. Dan akhirnya, Kamu juga yang menyalakan api dan membakar Aku dalam diam..
Aku sedih sangat, bila Kamu kata Kamu tak tau apa yang sebenarnya Kamu cari.. Tapi jauh di sudut hati, Aku merasakan, bahawa Kamu masih belum cukup dewasa untuk memahami apa itu cinta.. Dan mungkin takkan pernah dewasa.. Atau mungkin juga, Kamu belum pernah benar-benar jatuh cinta pada seseorang..
Jadi, selama ini, siapa Aku sebenarnya di hati Kamu? Adakah selama ini, Kamu sebenarnya tak pernah mencintai Aku? Siapa yang memujuk Aku untuk membuka pintu hati? Siapa yang mengajar Aku, bahawa cinta itu perlukan pengorbanan? Siapa yang memberitahu Aku, agar sentiasa jujur pada perasaan sendiri?
Sebelum Aku menghilang dari dunia Kamu, Aku ingin menyatakan sesuatu, yang tak pernah Kamu tahu. Kalaulah Kamu bertanya pada Aku, sedalam mana Aku cintakan Kamu, inilah jawapan Aku..
‘Kalau suatu hari, Kamu kehilangan sepasang mata, Aku akan memberi sepasang mata Aku, agar Kamu dapat melihat semula. Meski pun untuk itu, Aku harus buta buat selama-lamanya..’
‘Kalau suatu hari, Kamu kehilangan suara, Aku akan memberi suara Aku, agar Kamu dapat bersuara semula. Meski pun untuk itu, Aku harus bisu buat selama-lamanya..’
‘Dan kalau suatu hari, Kamu kehilangan hati, Aku akan memberi hati Aku, agar Kamu dapat hidup untuk selama-lamanya. Meski pun untuk itu, Aku tiada lagi di dunia ini..’
Kenali lah musim hujan yang basah dan kemarau yang meranggaskan daun-daun kering di sepanjang hari dalam dua belas purnama kerana cintaku bersemi di dua musim..
Kenali lah gelisah angin di antara buluh-buluh bamboo yang meliuk ke kanan dan meliuk ke kiri yang menggemerisik di antara sunyi kerana ada bisikan tentang gelisahku..
Ketika senja turun di bukit-bukit tak berpenghuni ada rona yang dilukiskan pada latar langitnya merah membara dan kadang-kadang lembayung kenalilah warnanya yang disapukan dari rinduku..
Malam-malamku adalah catatan tentang cinta dinginnya menghangatkan dan memberi aroma rasa aku jejaki purnama yang tenggelam di antara awan dan aku ingin terbenam bersama cinta yang kau bawa..
Ketahuilah bahawa Aku mencintai Kamu.. Terlalu cintakan Kamu.. Dan kerana Aku mencintai Kamulah, Aku melangkah pergi, demi kebahagiaan Kamu..
Aku berdoa, supaya suatu hari nanti, Kamu akan temui apa yang Kamu cari.. Supaya suatu hari nanti, Kamu akan memahami, apa erti cinta yang sebenar.. Supaya suatu hari nanti, Kamu akan dapat mengetahui, bagaimana rasanya, terlalu mencintai seseorang..
Dan semoga Kamu tak akan pernah terlewat untuk menghargainya..
Aku percaya pada Tuhan yang mempertemukan kita.. Aku tahu, ada hikmah di sebalik semua ini.. Dan Aku tak akan menyoal.. Aku juga tak pernah kesal.. Sekurang-kurangnya, sepanjang mengenali Kamu, Aku telah bersikap ikhlas dan jujur dengan perasaan Aku..
Aku juga percaya, andai benar kita punya jodoh, Kamu akan kembali semula pada Aku.. Itu bukanlah harapan Aku.. Tapi Aku ingin belajar untuk pasrah pada ketentuan.. Dan kalau pun Kamu takkan pernah kembali pada Aku, Aku percaya, mungkin itu yang terbaik..
Di mana pun Kamu berada, Kamu tetap bertakhta di hati Aku.. Dan di mana pun Aku berada, Aku akan tetap mencintai Kamu..
Maut sekali pun, tidak akan pernah mampu membunuh rasa cinta Aku pada Kamu.. Semuanya untuk Kamu.. Tapi sayang, Kamu tak pernah tahu..
Seseorang pernah berkata :
‘If you really love someone, then let that person go. If that person is meant for you, that person will come back to you eventually. But if that person does not, then that person was never meant for you, in the first place..’
Setelah ku baca surat itu, tak terasa air mata menetes dari sudut mataku. Teringat lagi akan kenangan-kenangan dengan Ahdi, kenangan yang akan selalu ku ingat. Kadang aku merasakan bahagia saat aku sedang berada di tengah-tengah teman-temanku, namun kesedihan akan kembali menyusup ke dalam hatiku saat teringat akan semua yang pernah terjadi antara aku dengan Ahdi.
Kamu..
Kamu mungkin jenis lelaki yang boleh mencintai ramai perempuan berkali-kali.. Tapi Aku pula seorang perempuan yang percaya, bahawa dalam hidup Aku, Aku hanya akan ada 1 lelaki, 1 cinta dan 1 perkahwinan.. Kita hidup sekali, mati sekali, dan mencintai sekali..
Melangkah pergi meninggalkan Kamu, telah mengambil seluruh kekuatan yang Aku ada.. Jangan anggap bahawa Aku tinggalkan Kamu kerana Aku bencikan Kamu.. Jangan pernah menganggap..
Bagaimana harus Aku bencikan Kamu, sedangkan setiap hari, Aku merindui Kamu, biar pun pada ketika Kamu berada di sisi Aku.. Setiap saat, Aku mengingati Kamu.. Seumur hidup ini, Aku mencintai Kamu..
Kamu..
Inilah aku apa adanyaa..
yang ingin membuatmu bahagia..
maafkan bila ku tak sempurna..
sesempurna cintaku padamu..
Ini juga ku apa adanya..
yang ingin selalu disampingmu..
ku tau semua tiada yang sempurna..
Jalan kita masih panjang..
ku ingin kau selalu disini..
Biar cinta kita tumbuh harum mewangi..
dan dunia menjadi saksinya..
untuk apa kita membuang buang waktu..
dengan kata kata perpisahan..
Demi cinta kita aku akan menjaga,,
cinta kita yang telah kita bina..
walau hari terus berganti hari lagi..
cinta kita abadi selamanyaa..
PemberianNYA keatas hambaNYA
Saat kau bangun di pagi hari, Aku memandangmu dan berharap engkau akan berbicara kepadaKu., bercerita, meminta pendapatKu, mengucapkan sesuatu untukKu walaupun hanya sepatah kata. Atau berterima kasih kepadaKu atas sesuatu hal yang indah yang terjadi dalam hidupmu pada tadi malam, kemarin, atau waktu yang lalu.... Tetapi Aku melihat engkau begitu sibuk mempersiapkan diri untuk pergi bekerja... Tak sedikitpun kau menyedari Aku di dekat mu.
Aku kembali menanti saat engkau sedang bersiap, Aku tahu akan ada sedikit waktu bagimu untuk berhenti dan menyapaKu, tetapi engkau terlalu sibuk... Di satu tempat, engkau duduk tanpa melakukan apapun. Kemudian Aku melihat engkau menggerakkan kakimu. Aku berfikir engkau akan datang kepadaKu, tetapi engkau berlari ke telefon dan menelefon seorang teman untuk sekadar berbual-bual.
Aku melihatmu ketika engkau pergi bekerja dan Aku menanti dengan sabar sepanjang hari. Namun dengan semua kegiatanmu Aku berfikir engkau terlalu sibuk untuk mengucapkan sesuatu kepadaKu.
Sebelum makan siang Aku melihatmu memandang ke sekeliling, mungkin engkau merasa malu untuk berbicara kepadaKu, itulah sebabnya mengapa engkau tidak sedikitpun menyapaKu.
Engkau memandang tiga atau empat meja sekitarmu dan melihat beberapa temanmu berbicara dan menyebut namaKu dengan lembut sebelum menjamah makanan yang kuberikan, tetapi engkau tidak melakukannya.....
Ya, tidak mengapa, masih ada waktu yang tersisa dan Aku masih berharap engkau akan datang kepadaKu, meskipun saat engkau pulang ke rumah kelihatannya seakan-akan banyak hal yang harus kau lakukan.
Setelah kerjamu selesai, engkau menghidupkan TV, Aku tidak tahu apakah kau suka menonton TV atau tidak, hanya engkau selalu ke sana dan menghabiskan banyak waktu setiap hari di depannya, tanpa memikirkan apapun dan hanya menikmati siaran yang ditayangkan, hingga waktu- waktu untukKu dilupakan.
Aku menanti dengan sabar saat engkau menikmati makananmu tetapi engkau lupa menyebut namaKu dan berterima kasih atas makanan yang telah Kuberikan.
Saat tidur Kufikir kau merasa terlalu lelah. Setelah mengucapkan selamat malam kepada keluargamu, kau melompat ke tempat tidurmu dan tertidur tanpa sepatahpun namaKu kau sebut. Tidak mengapa kerana mungkin engkau masih belum menyedari bahawa Aku selalu hadir untukmu.
Aku telah bersabar lebih lama dari yang kau sedari. Aku bahkan ingin mengajarkan bagaimana bersabar terhadap orang lain. Aku sangat menyayangimu, setiap hari Aku menantikan sepatah kata darimu, ungkapan isi hatimu, namun tak kunjung tiba.
Engkau bangun dari tidormu kembali dan kembali Aku menanti dengan penuh kasih bahawa hari ini kau akan memberiKu sedikit waktu untuk menyapaKu... Tapi yang Kutunggu... ah tak juga kau menyapaKu. Subuh, Zuhur, Asar, Magrib, Isya dan Subuh lagi kau masih tidak mempedulikan Aku.
Tak ada sepatah kata, tak ada seucap doa, tak ada pula harapan dan keinginan untuk sujud kepadaKU.... Rezeki yang Kulimpahkan, kesihatan yang Kuberikan, Harta yang Kurelakan, makanan yang Kuhidangkan, Keselamatan yang Kukurniakan, kebahagiaan yang Kuanugerahkan, apakah hal itu tidak membuatmu ingat kepadaKu???
Percayalah, Aku selalu mengasihimu, dan Aku tetap berharap suatu saat engkau akan menyapaKu, memohon perlindunganKu, bersujud menghadapKu, Kembali kepadaKu.
Yang selalu bersamamu setiap saat, Tuhanmu....
17 Jan 2011
Before I go
My Dear,
There’s no way to say this, but it’s impossible not to say it either. I’m sure you’ve sensed my distance recently, and I owe you an explanation. The trouble is there is no good explanation any reason I offer will fall short of what you deserve. Before I go any further I want to say that you have done nothing wrong. You are the same angel I started dating earlier this year.
What’s happened is something has changed within me. I can’t identify or fix it, but I know as a result of it I should break up with you. I hate that I just said that. I’ve been struggling with this, hoping things would click back into place. I fear if we keep moving forward I’ll become more and more emotionally detached and I don’t want you to have to deal with that. I can try to answer any questions you have. I hope you can forgive me.
As far as I know I have done nothing to justify such behavior, I’ve told you distinctly that I do not love you any longer. I shook your hand and asked you to accept friendship in place of love. Why do you reproach me? Surely not for a lack of frankness. I have been loyal: I have never deceived you; I have been yours completely. It’s your fault that you have not known how to hold on to what is yours.
Besides, My Dear, you must realize that I am not made for happiness. It is not my fault that I am constantly in search of new sensations, new emotions. That is how I shall be until my life is worn away. I am just as unsatisfied in the morning after, as I am the night before. My heart demands more excitement than anyone can give it. My frail body is exhausted by the act of love. Never is it the love I dream of.
At this moment I am in a complete prostration. My life seems to have stopped. I feel neither joy nor sorrow. I wish you could forget me. What can I do? You must not be angry with me. I’m an incomplete person but a good one at heart. If I could prevent your suffering I would do so!!! But you demand my love and it is you who have killed it!.. I really mean that.
opieh
14 Jan 2011
My Soul Left Behind
Aku bingung harus mula dari mana tulisan ini… Aku sudah terkurung dalam waktu dan kesakitan seharusnya aku mampu belajar tuk mencari celah dan keluar dari kekacauan hati ini.. Tapi kenyataannya aku mulai betah dan bertahan disini.. Entah apa yang ada di mindaku sekarang.. Hatiku mungkin saja sudah mati, dan sudah menyerah pada jalan hidup yang membawaku hingga hari ini, kekuataan yang aku miliki sudah habis terhakis tuk mengerti dan menerima apa yang sudah ditakdirkan pada nadi kehidupanku..
Seribu satu kesah sudah, kulalui bermusim-musim yang berganti memberi aku erti bahwa semua ini pasti kan berakhir pada waktunya.. Kerna tak ada satu pun yang kekal abadi begitu juga dengan semua kesah ini.. Suatu waktu yang pernah ku lalui… Sayangnya ketika hatiku belum menemukan seorang yang mencintaiku melebihi dirimu.. Aku masih terkurung pada masa lalu dan terusik sebuah cerita masa lalu dari sebuah lagu kenangan saat itu.. Aku sempat termenung, terdiam, pikiranku melayang ke dalam kehampaan betapa aku tak pernah menyangka semua berakhir seperti ini… Aku benci saat seperti ini, saat semua harus ku rasakan lagi kepedihan hidup dalam kesendirian, terlalu lama aku tercari-cari dalam badai kehidupan yang membawaku dari dunia kesepian ke dunia kesepian yang lainnya. Mata menjadi sayu, pucat, lemah tak berdaya.. Masa yang lalu menyeretku tuk selalu menangis masa itu….
Namun aku harus menyedari bahwa kenyataan sekarang aku adalah “tuan penyendiri” aku telah lelah berkawan dengan waktu, mencuba berkelahi dengan takdir dan mencuba membuat garis kehidupanku sendiri… Kerna itulah sampai sekarang, mungkin saja Tuhan masih menghukumku.. Agar aku dan hatiku menjadi kaku terayuh menjadi sepi tuk mengakui bahwa aku sudah kalah dan pulang dengan hati tertunduk menyembunyikan perasaan yang tak pernah kugambarkan betapa aku adalah seorang pergembara dalam dunia cinta yang selalu berkata bahwa aku kuat tuk menjalani semua ini… Padahal hatiku menangis semahu-mahunya..
Aku selalu berharap yang mengetuk pintu kesepianku adalah kebahagian namun yang datang hanya angan-angan dan selalu berakhir dengan kesedihan.. Saat mengetahui hal itu berulang dan terulang aku pun mulai terbiasa dengan semua ini selalu menyeksaku, seperti menggulitku, menerjah kepercayaanku bahwa suatu saat seorang itu membuka pintu itu dan membawaku pergi dari tempat ini..!
Cinta? Aku sudah tak mengerti bagaimana cara mengungkapkanya, bagaimana cara membangkitkannya dari tidur yang panjang dan kelam.. Aku tak mampu lagi merasakan hangatnya perhatian dan kasih yang asalnya adalah benar untukku, hanya untukku.. Tapi aku menafikannya dan tetap berkeras tuk sendiri.. Ada apa dengan hatiku? Apa yang sebenarnya terjadi.? Aku menjadi lelah dan tak dapat berpikir serius.. Aku begitu terpukau dengan masa lalu yang terlalu hebat dalam sejarah hidupku dan sampai hari ini belum ada yang mengalahkannya… Huhhh…..Aku kalah, ternyata aku memang tak dapat terpisah dari masa lalu… Ia, aku masih disini… Aku merasa terlalu berat beban yang ku tanggung pada masa ini.. Kerna harus menemukan cinta yang lebih hebat darimu dan aku tak tau harus kemana dan dimana mencari cinta seperti itu…
Malam ini begitu dingin tuk tetap terjaga dan menulis kesah nasib ini.. Lelah meniti waktu dengan sendiri, berkeluh resah dan meratapi nasib yang sangat membosankan.. Mengubati luka hati dengan sendiri adalah hal yang sulit, karena melupakan adalah tidak mungkin maka aku berusaha tuk menerima kepergian seorang yang begitu hebat mencintaiku, dan begitu hebat pula meninggalkanku.. Dan akhirnya inilah aku insan yang sering menyendiri dan mengagumi kesah yang sudah kau tinggalkan padaku..
Inilah yang aku lalui, jasadku disini di masa ini tapi hatiku, jiwaku seakan tertinggal dimasa lalu.. Masa dimana aku selalu tersenyum, tertawa dan tidak merasakan kehampaan yang panjang seperti ini.. Dan tak ada satu pun yang ingin hidupnya hanya di isi oleh pertanyaan “kenapa aku masih mencintainya..? Mencintai hati yang tidak mencintaiku..?” Aargghhhhhhhhhhhhh..! entahlah, aku tak mampu mengatakannya. Aku memang seperti ini..
Kini masa telah berlalu, aku mengetahuinya tapi entah kenapa jiwaku kembali lagi ke masa lalu dan tak mampu kembali lagi…walau sendirian aku harus tetap bertahan menahan tangis yang terasa sesak di dada… Mengumpulkan kembali kekuatan tuk tetap berada pada jalan-jalan sepi tak bertepi yang akan membawaku kembali pulang ke tempat dimana seharusnya aku berada dalam kedamaian dan dalam tenang. Aku hanya duduk diam dan termenung mengingat semua kenangan indah itu walau hanya untukku sendiri.. Ia sendiri, hati yang tak lagi pernah tersentuh.. Hati yang tenggelam di dasar samudera, hati seorang pengembara cinta…i’ve been move on but my soul left behind and no one can help me..
“Menjadi setia pada satu hati yang tak pernah mencintaimu adalah menyakitkan dan aku menikmatinya..?”
Dugaan Demi Dugaan..
Aku Masih Di Sini..
Menanti Jawapan..
Jiwa Ku Sudah Kekeringan Dengan Penantian
Kekadang Resah Ku...
Membawa Kelamunan..
Yang Aku Sendiri Kuatir
Akan Bekukah Hati Ku Nanti...
Bila Sapaan Mu Bermula Kembali..
Setelah Harapan Tinggal Harapan...
Dugaan Mu Pada Ku
Dugaan Illahi Jua Pada Ku...
Akan Ku Tabah Hati Ini...
Untuk Merepuh Belantara Hidup...
Gelap Dan Sepi
Mataku Masih Buta Untuk Esok Hari...
Tak Dapat Ku Buka Tirai Yang Tersedia...
Kerna Tirai Itu Adalah Pandangan Mu...
Yang Ku Rindu Saban Waktu...
Kasih Seandai Adanya Penghujung Cerita Kita..
Maka Bagai Sempurna Mimpi Ku ...
Sayang Ku Kan Ku Tabur Lagi
Benih Benih Kasih Untuk Semua...
Kan Ku Siram Pengorbananku Untok Semua...
Agar Senyuman Mereka Berbunga
Doa Untuk Merestui Idaman Ku..
Kau Yang Ku Amat Rindui...
Masih Membisu...
Sepatah Tiada...
Namun Ku Kan Senantiasa Setia ...
Hanya Pada Mu...
11 Jan 2011
Cinta–Kenapa?
kenapa kita menutup mata ketika kita tidur?
ketika kita menangis?
ketika kita membayangkan?
itu karena hal terindah di dunia tdk terlihat
ketika kita menemukan seseorang yang
keunikannya sejalan dengan kita, kita bergabung
dengannya dan jatuh ke dalam suatu keanehan
serupa yang dinamakan cinta.
Ada hal2 yang tidak ingin kita lepaskan,
seseorang yang tidak ingin kita tinggalkan,
tapi melepaskan bukan akhir dari dunia,
melainkan suatu awal kehidupan baru,
kebahagiaan ada untuk mereka yang tersakiti,
mereka yang telah dan tengah mencari dan
mereka yang telah mencoba.
karena merekalah yang bisa menghargai betapa
pentingnya orang yang telah menyentuh kehidupan mereka.
Cinta yang sebenarnya adalah ketika kamu
menitikan air mata dan masih peduli terhadapnya,
adalah ketika dia tidak memperdulikanmu dan
kamu masih menunggunya dengan setia.
Adalah ketika di mulai mencintai orang lain dan
kamu masih bisa tersenyum dan berkata
"aku turut berbahagia untukmu"
Apabila cinta tidak bertemu bebaskan dirimu,
biarkan hatimu kembalike alam bebas lagi.
kau mungkin menyadari, bahwa kamu menemukan
cinta dan kehilangannya, tapi ketika cinta itu mati
kamu tidak perlu mati bersama cinta itu.
Orang yang bahagia bukanlah mereka yang selalu
mendapatkan keinginannya, melainkan mereka
yang tetap bangkit ketika mereka jatuh, entah
bagaimana dalam perjalanan kehidupan.
kamu belajar lebih banyak tentang dirimu sendiri
dan menyadari bahwa penyesalan tidak
seharusnya ada, cintamu akan tetap di hatinya
sebagai penghargaan abadi atas pilihan2 hidup
yang telah kau buat.
Teman sejati, mengerti ketika kamu berkata "aku lupa"
menunggu selamanya ketika kamu berkata "tunggu sebentar"
tetap tinggal ketika kamu berkata "tinggalkan aku sendiri"
mebuka pintu meski kamu belum mengetuk dan
belum berkata "bolehkah saya masuk ?"
mencintai juga bukanlah bagaimana kamu
melupakan dia bila ia berbuat kesalahan,
melainkan bagaimana kamu memaafkan.
Bukanlah bagaimana kamu mendengarkan,
melainkan bagaimana kamu mengerti.
bukanlah apa yang kamu lihat, melainkan apa yang kamu rasa,
bukanlah bagaimana kamu melepaskan melainkan
bagaimana kamu bertahan.
Mungkin akan tiba saatnya di mana kamu harus
berhenti mencintai seseorang, bukan karena orang
itu berhenti mencintai kita melainkan karena kita
menyadari bahwa orang itu akan lebih berbahagia
apabila kita melepaskannya.
kadangkala, orang yang paling mencintaimu adalah
orang yang tak pernah menyatakan cinta
kepadamu, karena takut kau berpaling dan
memberi jarak, dan bila suatu saat pergi, kau akan
menyadari bahwa dia adalah cinta yang tak kau sadari
puisi SA
Aku tak pernah berlari meninggalkanmu !
Melangkah menjauhi pun tak pernah terlintas
Aku masih disini…. Aku masih ada…
Namun sebait pun kini tak sempat lagi kubuat
Setiap hari kuhanya bisa berkata pada hati
Besok mungkin dapat kuluangkan waktu lagi
Tuk menulis tentang hati…
Dalam sebentuk puisi
Nyatanya aku tak pernah sempat
Ragaku s’lalu saja terlebih dahulu penat
Sehingga asa dan rasa tak pernah sempat
Dapatkan waktu yang tepat untuk puisi-puisi baru kubuat
Hingga sekali lagi di pagi ini
Kerinduan pada puisi kembali menjadi
Curahan hatiku dalam sebentuk puisi
Semoga esok aku bisa segera kembali
Inilah Cinta: Terbang tinggi ke langit
Setiap saat mencampakkan ratusan hijab
Pertama kali menyangkal hidup (zuhud),
Pada akhirnya (jiwa) berjalan tanpa kaki (tubuh)
Cinta memandang dunia telah raib
Dan tak mempedulikan yang nampak di mata
29 Dis 2010
Anak Derhaka kerana Isteri tercinta
Beberapa hari selepas kami berada di Mekah, saya mula terdengar cerita-cerita daripada jemaah yang saya bawa tentang hubungan dingin antara seorang ibu dengan anak lelaki dan menantunya. Si ibu berusia 60-an sementara anak dan menantunya akhir 30-an. Mereka bertiga ialah antara beberapa ratus jemaah yang saya bawa untuk mengerjakan haji beberapa tahun lalu.
Saya diberitahu, hubungan dingin itu sebenarnya bermula sejak di Malaysia lagi kerana wanita berkenaan kurang senang dengan perangai menantunya yang sombong dan mengongkong suami. Kerana hidup dalam kemewahan, menantunya itu tidak menghormati wanita berkenaan selayaknya sebagai mentua, apatah lagi seperti ibunya sendiri.
Seperkara lain yang wanita itu benar-benar kecewa ialah biarpun anaknya itu ahli perniagaan berjaya, tetapi apabila berhadapan dengan isteri, dia jarang membantah, apa lagi mengangkat suara. Apa sahaja kehendak isteri diturutkan walaupun kadangkala menyinggung perasaan ibu dan keluarganya.
Walaupun telah bertahun-tahun mendirikan rumahtangga, wanita tersebut kesal kerana anak dan menantunya itu amat jarang balik ke kampung. Apatah lagi hendak tidur disana. Kalau singgah pun menantunya tidak mahu berada lama di rumahnya. Pelbagai alasan diberi supaya mereka cepat berangkat pulang.
Si ibu tadi telah menasihatkan anaknya supaya menegur sikap buruk isterinya itu, tetapi ia seperti tidak dilayan. Menantunya terus bongkak dan sombong. Si ibu juga mengingatkan anaknya jangan terlalu menurut kehendak isteri, namun dari sehari ker sehari, anaknya itu tetap mengikut telunjuk isterinya.
Saya dimaklumkan juga, wanita tersebut berkecil hati kerana menantunya tidak senang dengan kehadirannya di Mekah. Kalau boleh dia mahu pergi ke tanah suci bersama suaminya sahaja tetapi kerana lelaki berkenaan berkeras juga hendak membawa ibunya sekali, dia terpaksa mengalah, namun dengan bibir yang memuncung panjang dan kata-kata sinis serta sindiran tajam. Kerana itulah sejak sampai ke Madinah dan Mekah hubungan dingin itu menjadi semakin parah.
Oleh kerana mereka tinggal sebilik, si anak dapat melihat sendiri di depan matanya hubungan buruk antara ibu dengan isterinya. Pada mulanya dia tidak mengendahkan sangat kerana kedua-duanya orang yang dia sayang. Tambahan pula dialah yang membayar semua perbelanjaan mereka bertiga untuk ke Mekah.
Tetapi semakin hari perselisihan faham itu bertambah parah. Hubungan ibu lelaki tadi dengan isterinya semakin buruk. Bukan sekali mereka bertegang leher. Si ibu yang telah agak lanjut usianya, pastilah hendak supaya sentiasa dilayan hati dan perasaannya. Tetapi menantunya pula sombong dan panas baran. Dia tidak suka melayan kehendak mentuanya itu yang baginya cerewet.
Akibat perselisihan faham, mereka tidak menegur sapa dan si ibu pula enggan memakan makanan yang dimasak oleh menantunya itu. Ini menyebabkan si anak tadi terpaksa membeli makanan diluar untuk ibunya.
“Macam mana isteri kau nih Man. Emak pun tak dihormatnya. Emak minta tolong si kit dia membebel. Emak nak itu dia tak layan, nak ini, dia tak peduli, “rungut si ibu kepada anaknya.
“Abang tengok-tengoklah si kit emak abang tu. Cerewet, nak itulah, nak inilah, macam-macam. Saya dah cakap jangan bawa abang nak bawa juga. Hah…sekarang macam mana?” kata si menantu pula dengan suara yang kasar.
Kedua-duanya memberikan alasan masing-masing hingga si anak berasa amat tertekan. Hendak dimenangkan ibunya, khuatir isteri bermasam muka. Hendak dimenangkan isteri, khuatir ibunya pula terasa hati. Jadi sedaya yang boleh dia cuba memekakkan telinga dan membutakan mata daripada pertelingkahan itu.
Perbalahan mereka tiga beranak terbawa-bawa keluar. Apabila berjalan, duduk di meja makan atau bersiar-siar, masing-masing membawa arah sendiri. Akhirnya masalah itu dihidu oleh jemaah-jemaah lain. Mereka mula menjadi perhatian. Begitu juga saya. Pelbagai cerita yang saya dengar tentang mereka.
Selepas lama berselisih faham, si anak sedi kit demi sedi kit menyebelahi isterinya. Bagi lelaki itu, ibunya yang bersalah kerana terlalu banyak meminta, cerewet dan terlalu ambil hati.
“Orang tua, macam tulah yang,” kata lelaki itu memujuk isterinya.
Suatu hari, si ibu memanggil anaknya. “Man, boleh tak kau belikan sejadah untuk emak? Di kedai bawah tu aja, “katanya. “Emak nak berapa?” soal anaknya. “Dalam 10 helai.” “Eh, nak buat apa banyak-banyak? ” soal si anak lagi. “Alaaah….nak buat kenangan, lebih tuh nak kasi pada kawan-kawan dan orang kampung. Dapat juga pahala, kau pun dapat pahala sama,” kata si ibu dengan tersenyum.
Mendengar permintaan mentuanya itu, isteri si anak menarik muka masam. Matanya merenung tajam wajah suaminya sebagai isyarat “jangan layan!” Kemudian mukanya ditoleh ke arah lain. Ekoran itu, si anak yang pada mulanya mahu menuruti permintaan ibunya, kembali ke tempat duduk.
“Tak bolehlah mak. Saya penatlah. Nantilah bila nak balik nanti saya belikan,” jawab si anak.
Tetapi kata-kata itu menyebabkan ibunya berkecil hati. Dia kecewa anak kesayangannya itu sanggup mengetepikan permintaannya, sebaliknya menurut saja apa kata isteri.Lantas dia berkata,”Kau nih Man,emak nak benda tu pun tak boleh beri. Tapi kalau orang rumah kau, dah sampai penuh begnya pun kau nak belikan barang lagi. Emak ni kau belikan sedi kit aja. Sampai hati kau Man.”
Sepatutnya kata-kata ibu tadi diterima dengan keinsafan tetapi tanpa disangka anaknya naik berang.Dengan meninggikan suara, dia memarahi ibunya.
“Emak ni! Apa mak nak buat dengan barang-barang tu? Mak kan dah tua, buat apa nak beli itu beli ni. Isteri saya adalah sebab saya beri macam-macam, sampai penuh beg. Saya ada anak. Saya nak belikan barang-barang untuk anak kami juga!” katanya dengan muka masam mencuka. Dadanya turun naik menahan marah. Isterinya pula tersenyum puas.
Si ibu terkejut, lantas berkata, “Sampai hati kau cakap macam tu dengan emak. Aku ni emak kau, tak boleh kau tengking herdik. Kalau sayang bini pun janganlah sampai emak sendiri engkau ketepikan, engkau marah-marah, “katanya dengan kecewa.
Si anak bertambah berang. “Emak tu dah tua,buatlah cara tua! Jangan nak minta itu minta ini!”
Ibunya makin terkilan.Hatinya begitu hancur apabila anak yang dipeliharanya sejak kecil dengan penuh kasih sayang sanggup mengherdiknya sebegitu rupa. Tindakan anaknya yang sudah melampau itu menyebabkan si ibu marah.
Sambil merenung tajam wajah anaknya, si ibu berkata, “Man, Aku ni emak kau tau. Aku yang lahirkan engkau. Bila masa isteri engkau beranakkan kau? Bila masa dia besarkan kau?
“Ingat Man, emaklah yang susah payah jaga kau, cari duit nak besarkan kau, hantar ke sekolah sampai kau berjaya sekarang. Tapi bila dah berjaya kau buat emak macam ni. Isteri kau lebihkan daripada emak kau sendiri. Dengan isteri kau cakap dengan baik tapi emak kau sendiri kau tengking-tengkingka n.”
Dan dengan suara tegas si ibu tadi menyambung, “Kalau beginilah sikap engkau Man, mulai hari ini emak haramkan susu emak yang dulunya kau minum!”
Takdir Allah, serentak dengan kata-kata si ibu tadi,anaknya terus jatuh terjelepok ke lantai. Bagai panahan petir, kata-kata tersebut seolah-olah “membunuh” si anak tadi serta-merta. Begitu cepat balasan Allah kepada hamba-Nya. Tan pa menoleh kepada anaknya yang terbaring di lantai, si ibu tadi bergegas keluar dari biliknya. Sambil berjalan dia mengesat air matanya yang menitis dengan lengan bajunya. Dia tidak menoleh ke belakang lagi. Sementara itu si anak pula terkulai dengan mata terkebil-kebil. Badannya longlai dan lembik. Isterinya pula menangis tersedu-sedu.
Sejak itu kesihatan si anak mula terganggu. Badannya seperti sedang sa kit , namun apabila diperiksa, doktor gagal mengesan apa puncanya. Bagaimanapun, bala yang menimpanya itu masih gagal menyedarkan si anak tadi. Dia dan isterinya tetap enggan bertegur sapa dengan ibunya. Apa yang telah menimpanya langsung tidak diambil iktibar. Bagi lelaki berkenaan, apa yang berlaku bukanlah balasan Allah dan tubuhnya tidak sihat juga bukan satu petunjuk daripada Allah tentang kesilapannya. Ia cuma kebetulan.
Tinggallah si ibu tadi memendam perasaan kesal dan kecewa. Biarpun duduk sebilik dia diasingkan oleh anak dan menantunya sendiri. Makanan dan minuman terpaksa dia pergi membelinya di luar. Di bilik, dan apabila berada di luar dia lebih banyak termenung dan menangis. Jika jemaah lain bertanya mengapa, atau di mana anak dan menantunya, wanita tersebut tidak menjawab. Sebaliknya terus menangis dan menangis.
Anak yang derhaka tidak akan terlepas daripada balasan Allah. Kesihatan si anak tadi semakin buruk. Badan dan kakinya lemah hingga dia tidak terdaya untuk berdiri sendiri. Akibatnya si anak itu terpaksa dipapah dan diusung semasa wukuf, sai, melontar jamrah, tawaf dan sebagainya. Badannya benar-benar lemah untuk melakukan i bad ah-i bad ah tersebut.
Sementara itu, kerana tidak ada lagi tempat bergantung, si ibu tadi menunaikan haji bersama-sama kami, dengan bantuan dan pertolongan kami, bukan oleh anak dan menantunya. Masing-masing menjauhkan diri dan tidak bertegur sapa seolah-olah tidak kenal antara satu sama lain. Suatu hari saya menemui wanita tersebut.
“Mak aji…sudahlah tu. Maafkanlah anak makcik tu. Yang lepas tu lepaslah, dia dah terima balasannya,” kata saya.
Wanita itu cuma mendiamkan diri. Dia menangis dan mengesat air matanya yang gugur. Saya terus juga menasihatkannya, tapi seperti tadi, wanita itu langsung tidak mahu menjawab barang sepatah pun. Dia sebaliknya cuma menangis. Dari raut wajahnya ternyata dia benar-benar kesal dengan sikap anak dan menantunya hingga dia tidak sanggup lagi bercakap tentang mereka.
Selepas itu saya menemui anaknya pula.Lelaki berkenaan seolah-olah terpinga-pinga dan tidak tahu apa yang telah berlaku dan apa yang sepatutnya dibuat untuk menyelesaikan masalah tersebut.Isterinya pula cuma mencebikkan bibir bila saya sebut nama mentuanya.
Begitulah keadaan mereka hingga selesai musim haji dan seterusnya kembali ke tanah air. Sejak itu saya tidak menghubungi mereka lagi. Khabar yang saya terima memang mengejutkan. Saya diberitahu, sejak pulang ke tanah air si anak tadi sa kit terus-menerus. Penya kit nya agak kronik dan gagal diubati doktor.
Namun dalam tempoh itu hubungan mereka tiga beranak tetap tidak berubah. Anak yang telah mendapat balasan Allah juga masih tidak insaf dengan kesilapannya. Ibu pula yang telah terkilan dengan sikap anaknya, tetap enggan memaafkannya. Sejak kembali dari Mekah,mereka langsung tidak mengunjungi antara satu sama lain.
Berita terakhir saya terima ialah lelaki terbabit telah meninggal dunia selepas menderita sa kit selama 10 tahun.
“TUHANMU TELAH MEMERINTAHKAN HENDAKLAH KAMU TIDAK BERBAKTI KECUALI KEPADA-NYA DAN BERBUAT BAIK KEPADA ORANG TUA, JIKA SALAH SATU ANTARA MEREKA ATAU KEDUA-DUANYA SUDAH SAMPAI UMUR TUA DAN BERADA DALAM PEMELIHARANMU, MAKA JANGANLAH KAMU KATAKAN KEPADA MEREKA ITU KATA-KATA “AH”, DAN JANGAN KAMU BENTAK MEREKA TETAPI KATAKANLAH KEPADA MEREKA BERDUA KATA-KATA MULIA. DAN RENDAHKANLAH TERHADAP MEREKA BERDUA SAYAP KERENDAHAN KERANA KASIH, DAN DOAKANLAH KEPADA TUHANMU: BERILAH RAHMAT KEPADA MEREKA ITU SEBAGAIMANA MEREKA TELAH MEMELIHARAKU PADA WAKTU AKU MASIH KECIL.”
[Surah al-Israa ' 7:23-24.]
Diriwayatkan oleh Hakim, sesungguhnya Rasulullah s.a.w bersabda:
“SEMUA DOSA AKAN DITANGGUHKAN OLEH ALLAH SAMPAI HARI KIAMAT NANTI APA SAHAJA YANG DIA KEHENDAKI KECUALI DERHAKA KEPADA ORANG TUA, MAKA SESUNGGUHNYA ALLAH AKAN MENYEGERAKAN KEPADA PELAKUNYA DALAM HIDUPNYA SEBELUM MENINGGAL DUNIA.”
source: Diceritakan oleh Ustaz Mohamad Din Yusoh
Utas Travel and Tours Sdn.Bhd.
12 Dis 2010
Kebebasan @_@
“Kebebasan itu satu kata yang mudah di ucapkan tapi sukar untuk dipraktikkan. Maka di setiap ia terbangun di pagi harinya. Dia selalu bertanya, apa itu bebas? Mungkin kebebasan itu seperti udara yang meniupnya dan matahari yang menyinarnya di setiap pagi. Membuatkannya merasa seperti manusia atau kebebasan itu ertinya cinta. Sayangnya senja terlalu lebih awal datang di hari-harinya dan ia menutup matanya kembali. Ia belum menemukan pertanyaan yang di mulainya pagi tadi. Apa itu bebas?”
Kinazatul asrar, gadis manis itu kini tersungkur lemah dibalik pintu kamarnya. Perlahan air matanya mulai menitis. Masih terbayang pertengkaran dengan kakaknya, Arnezatul wisuda malam tadi.
“Kamu pikir ini hotel? Jadi kamu boleh pulang pergi sesukanya? Begitu?” tuding Arnezatul, sinis. Kina terdiam sejenak.
“Tapi Ka…aku kan…” Kina mencuba membela diri. Tapi tomahan panjang kembali terlontar dari mulut kakaknya.
“ Tak yahh banyak alasan!! Ingat, kamu tuh masih kecil, baru kelas 1 SMA. Jadi tak usah berkawan, tak yahh keluar terus.”
“ Tapi, kalau Kina pergi juga dan tau waktu baliknya Kak..!!” Timpal Kina.
“ Bijak ya kamu sekarang! Sudah berani kamu melawan Kakak?? Kina, masuk ke bilik kamu. Sekarang. Apapun kamu harus duduk dirumah. Diam, belajar, dan bantu kakak mengurus Ibu, urus rumah” tutur Arnezatul panjang lebar.
“ Awas kalau sampai kamu berani keluar besok pagi” tambahnya, menggertak.
Kina menyeka air matanya, pelan. Kata-kata itu masih saja terngiang di telinganya. Rasanya sakit… bahkan lebih sakit dari tamparan Arnezatul tadi malam. Gadis itu kadang berfikir. Apa punya ramai kawan itu salah? Apa sebagai seorang gadis remaja, jaga penampilan itu salah? Apa malam minggu kumpul bersama kawan itu juga salah? Kina sendiri bingung dengan kakaknya. Apa pun yang dilakukan Kina, selalu saja dinilai salah oleh Arnezatul. Padahal setiap hari, Kina sering sangat melakukan kerja mengurus rumah. Mulai dari mengemas, menyapu lantai, menyuci, menyeterika baju, terkadang juga masak. Tapi semua itu sama sekali tak pernah dilakukan oleh Arnezatul. Karena dia selalu nilai, kalau Adiknya itu tak boleh buat apa-apa.
Kina selalu merasai, kakaknya itu suka marah-marah sejak Ayah mereka meninggal, dan Ibu mulai sering jatuh sakit. Tapi Kina tak tau kenapa!! Dia bahkan tak pernah tau apa-apa selain ini. Jadi kenapa harus Kina yang jadi pelampiasan ni? Bahkan sekarang ini, dia juga dikurung dibilik hanya gara-gara semalam pulang jam 8. Sementara Kina, masih tertunduk lemah. Meratapi kehidupan remajanya terkongkong dan tak bebas gara-gara kakaknya, Arnezatul.
*******
Jam 4 petang, Kina masih lagi terkurung di dalam bilik. Tiba-tiba terdengar alunan musik yang dipilihnya sebagai nada dering. Panggilan dari ‘Dalila’, Kina segera menekan punat answer ‘yes’….
“ Hello…” sape ye, di sana.
“ Kina!!! Kamu dimana sekarang? Aku dengan yang lain sudah lama menunggu kamu di tempat yang kita janji semalam. Katanya kamu mau ikut sekali menjenguk Erfan di hospital. Iffah sudah teringin sangat nak pergi tuh dari tadi. Kamu Tau kan, dia memang sayang dengan si Erfan. Eh, kamu jadi ikut tak nih??” Dalila berceloteh panjang.
“ Sorry La, aku lagi ada masalah nih di rumah. Jadi tak dapat keluar, maaf ya!! Aku titip salam aja ye buat Erfan” Keluhnya.
“ Masalah? Kina… jangan cakap yang kamu dikurung lagi dengan Kak Arnezatul..”
“ Ya…memang begitu lah kenyataannya” Kina, lirih.
“ kejam sangat la kakakmu tu ya! Boleh-bolehnya dia mengurung adik sendiri. Macam takde perasaan langsung betul orang tuh? Arghh…tak payah la di sesali ye. Tapi kamu tak apa-apa kan, Kina? atau aku datang ke tempatmu dulu ya!! ” Suara di seberang kedengeran mulai Emosi.
“ Tak yehh… Tak yehh. Nanti kamu malah kena marah juga lagi dengan kak Arnezatul” Kina melarang.
“ Serius tak yehh??” Sahabat Kina itu kedengaran ragu-ragu.
“ Iya tak perlu ke. Betul nih..!!” Jawabnya dengan nada menyakinkan.
“ Ya sudah. kamu… tabah dan sabar saja ya. Aku salut dengan ketegaran kamu dalam menghadapi keadaan selama ini. Terus semangat ya, kalau ada masalah jangan lupa cerita dengan aku. Kalau kamu perlukan bantuan juga begitau saja yee.. Jangan segan” tegas Dalila dari telepon. Kina tersenyum kecil, sahabatnya yang satu ini memang the best.
“ Iya. Makaseh juga yeh sudah tenangkan jiwa aku”
“ Sama-sama.. sudah dulu ya Kina. Iffah sudah mengeluh nih, tak sabar. Nanti aku sampaikan salam kamu ke Erfan. Dah….” Dalila mengakhiri perbincangan via telefon petang itu.
***
Seminggu kemudian, Kina mengemas beberapa baju dan barang-barangnya kedalam begnya. Dia sudah bertekad untuk menginap di rumah Dalila beberapa hari ini. Gadis ini betul-betul dah tak kuat tinggal di rumah itu dengan sikap kakaknya yang semakin menjadi-jadi.
Kina baru saja hendak keluar dari biliknya. Tapi ternyata dengan wajah terkejutnya, Arnezatul sudah berdiri di depan pintu,
“ Kamu mau kemana? kina? Kenapa sudah tak mau lagi tinggal di rumah ini?” Bentak Arnezatul.
“ Tak Kak!! Aku Cuma mau bermalam dirumahnya Dalila untuk beberapa hari”
“ Siapa yang mengizinkan kamu keluar? Ingat ya, Kina. Kakak tak akan mengizinkan kamu pergi kemana pun hari ini” Arnezatul kembali menggertak.
“ Kina tau kak, kalau kakak tak akan mengizinkan. Tapi Kina tetap juga akan pergi. Lagipun Kina juga tak perlu keizinan dari Kakak” Ujarnya seraya berlalu menuju pintu.
“ Kina…!!! Berhenti. Sejak bila kamu berani melawan kakak?? Masuk ke bilik kamu sekarang. Atau kakak ceritakan kejadian di supermarket itu sama Mama” kali ini Arnezatul mengancam.
Langkah kina terhenti. Pikirannya kembali melayang pada saat kejadian waktu itu. Saat dia dituduh mencuri dan akhirnya di bawa ke bilik security. Tapi waktu itu kina dituduh, dan dia tau yang dia memang tak buat. Tapi sayangnya tak ada saipa yang percaya.
Dan kalau mama tau pasal ini, pasti serangan jantungnya akan bertambah parah lagi. Oh… rasanya Kina tak sanggup kalau mesti egonya begini tanpa memikirkan keadaan mama nantinya. Arnezatul memang…. Kebelakangan. Dan tanpa pikir panjang, Kina segera masuk kembali ke bilikya.
******
Tiga tahun berlalu. Kinazatul asrar tumbuh menjadi seorang gadis cantik dan dewasa. Tapi keadaan masih sama seperti dulu, belum berubah. Arnezatul masih lagi mengongkong Kina sebagai budak kecil yang tak tau menguruskan diri, dan harus selalu disalahkan. Sementara Kina sendiri, mencuba bersikap lebih dewasa menghadapi semuanya.
Yah… walaupun Arnezatul sudah terlalu kelewatan. Tak mau membiayai kuliah Kina dengan wang orang tuanya, hanya kerana Kina lulus dengan nilai purata 3.68. Bukan !0 seperti yang Arnezatul inginkan. Dan mau tak mau, akhirnya Kina bekerja sambilan untuk menambah wang saku dan dengan bantuan biasiswa itu dapat lah juga meringankan perbelanjaan kuliahnya yang memang tinggi.
*****
Hari ini, Arnezatul wisuda. Da tak boleh buat apa-apa dan keistimewaan yang dia miliki. Ibu mereka masih lagi dengan keadaan seperti biasa yang masih juga sakit. Sedangkan Kina sendiri? Dia tak sudi membalas dendam mahupun menyeksa Arnezatul wisuda orang yang selalu membuat hidupnya sengsara. Walaupun itu kakaknya sendiri.
Tapi setelah beberapa harinya, Ibu mereka tiba-tiba sakit teruk hingga berakhirnya kesengsaraan sakit yang di tanggung ibunya. Ibunya pergi meninggalkan mereka dan Kini hanya duka dan haru yang terasa. Tapi seperti kata pepatah ‘selalu ada hikmah di balik musibah’ Dan akhirnya, Kina memutuskan untuk tak terlalu larut dalam kesedihan.
Kina merasai, kerana Mama sudah tenang disana, maka dia boleh pergi keluar dari sangkar emas ciptaan kakaknya. Kerana kini Arnezatul tak punya alasan lagi untuk menahan dia pergi. Akhirnya saat ini detik, saat dimana Kina ingin bebas… bebas dari kekangan kakaknya selama ini.
Tak lama, Kina lalu mengemas semua barangnya dan segera memanggil teksi. Dan ketika Kina mula meletakkan begnya di bagasi, pintu depan tiba-tiba terbuka. Kakaknya, Arnezatul, muncul dari dalam….
“ Ingat Kina. Sekali kamu pergi dari sini. Maka selamanya kamu tak akan pernah boleh kembali kesini lagi” Bentak Arnezatul, keras.
“ Ok. Lagipun aku juga tak perlukn hidup dengan amarah seorang kakak yang gila!!” Kali ini Kina balas membentak. Gadis itu kemudian masuk ke dalam teksi, tanpa memperdulikan kakaknya yang masih bersungut kesal.
*****
Teksi yang ditumpangi Kina bergerak dengan lajunya, tiba-tiba di persimpangan, sebuah bus meluruh laju dari arah berlawanan. Hendak berhenti, tapi break teksi tersebut kurang berfungsi. Pemandu teksi kehilangan kawalan, lalu terbabas ke kiri, namun akhirnya melanggar keras pembahagi jalan.
Teriakan-teriakan membahana. Orang-orang berkerumun memenuhi tempat kecelakaan. Jasad Kina ditemukan terbujur kaku di atas jalan. Bersimbah darah, dan tanpa nyawa..
Dan kini…. Kina benar-benar tenang. Ia bebas… ia terbebas dari segala kekangan di dunia ini. Damai bersama kedua orang tua yang ia cintai, di alam yang lain. Namun… walau jasadnya mati, tapi didalam jiwa gadis itu, terdapat sebuah dilemma yang tak akan pernah hilang…
10 Dis 2010
KEBABASAN ADALAH UJIAN KETAHANAN IMANMU
source: dari novel hatiku milikmuKau maukan seseorang
Memenuhi hatimu
Kerana kini kau bebas tidak seperti dulu
Dulu kau disekat dijaga
Maka kau pun boleh jaga jugaTetapi kini kau bebas
Tak boleh jaga nampaknya
Satu demi satu tersungkur
Atau sekurang-kurangnya tumbang
Atau sekurang-kurangnya kecundang
Tidak ramai yang boleh jagaCinta bermaharajalela
Tiada tujuhala
Ingatlah kau dari sekolah mana
Sbt sbh mempunyai harapan yang tinggi
Kami mempunyai impian
Yang kami mahukan kamu semua memahaminyaKami mahukan anak-anak semua
Meneruskan kegigihan kami
Menegakkan kalimah itu
Jangnlah leka nak
Janganlah kau ikutkan nafsu nakKau belum tahu penanganan dunia ini
Bukankah kau selalu mendengar nasihat di sekolah itu
Telah lupakah kau?
Semuanya?
Kan belum lama kau keluardarinya
Di merata tempat
Disana siniRamai wakil-wakil kami
Yang ingin membantumu
Apakah responmu semua?
Positivekah?
Atau kau yang mengelak?Hati Mama luka
Jika kau tidak memikirkan DIA
Dalam melayani nafsu muda yang menggila
Mama lakukan yang terbaik
Kerana mencari keredhoan NYAAnak-anak Mama tentu lebih faham dari Mama
Kerana Mama tidak belajar di sekolah itu
Anak-anak Mama sayang
Letaklah DIA dalam hatimu
Penuhilah hatimu dengan cinta terhadapNYABukan cinta kepada dia yang sementara
Yang digelar infatuations
Tidak bermakna
Cinta kepada dia
Jika membelakangkan DIA
7 Dis 2010
SURAT HAWA UNTUK ADAM
Wahai Adam...
Adam….Maafkan aku jika coretan ini memanaskan hatimu. Sesungguhnya aku adalah Hawa, temanmu yang kau pinta semasa kesunyian di syurga dahulu. Aku asalnya dari tulang rusukmu yang bengkok. Jadi, tidak hairanlah jika perjalanan hidupku sentiasa inginkan bimbingan darimu, sentiasa mahu terpesong dari landasan, kerana aku buruan syaitan.Adam…Maha Suci Allah yang mentakdirkan kaumku lebih ramai bilangannya dari kaummu di akhir zaman, itulah sebenarnya ketelitian Allah dalam urusanNya. Jika bilangan kaummu mengatasi kaumku nescaya merahlah dunia kerana darah manusia, kacau bilaulah suasana, Adam sama Adam bermusuhan kerana Hawa, kaumku sendiri rupanya!
Buktinya cukup nyata dari peristiwa Habil dan Qabil sehinggalah pada zaman cucu-cicitnya. Pun, jika begitu maka tidak selaraslah undang-undang Allah yang mengharuskan Adam beristeri lebih dari satu, tapi semestinya tidak lebih dari empat pada satu waktu. Tentu engkau lebih tahu dari diriku sendiri.
Adam…Bukan kerana ramainya isterimu yang membimbangkan aku. Bukan kerana sedikitnya bilanganmu yang merungsingkan aku. Tetapi, aku risau, gundah dan gulana menyaksikan tingkahmu. Aku sejak dulu lagi sudah tahu bahawa aku mesti tunduk ketika menjadi isterimu. Ah..semuanya sudah aku maklumi. Namun…terasa berat pula untukku nyatakan isi perkara pokoknya…
Adam…aku tahu bahawa dalam Al-Quran ada ayat yang menyatakan kaum lelaki adalah menguasai terhadap kaum wanita. Kau diberi amanah untuk mendidikku, kau diberi tanggungjawab untuk menjagaku, malah untuk memerhati dan mengawasi gerak perilaku aku agar sentiasa di dalam redha Tuhanku dan Tuhanmu, Allah azzawajalla…
Tetapi Adam, nyata dan rata-rata apa yang sudah terjadi pada kaumku kini, aku dan kaumku telah ramai menderhakaimu. Ramai yang telah menyimpang dari landasan yang sepatutnya lebih lurus, jalan yang ditetapkan asalnya Allah mahukan aku tinggal tetap di dalam rumah. Di jalan-jalan, di pasar-pasar, di bandar-bandar bukan patutnya menjadi jejak kaki ini. Jikapun ada, patutnya engkau lebih maklum tentu kerana aku hanya terpaksa, tetapi aku tak lupa untuk menutup seluruh tubuh dan aurat perempuanku, darilah hujung rambut( kalau tak botak), hinggalah hujung kakiku yang ayu. Tetapi…realitinya kini, hawa telah mengada-ngada, telah lebih dari yang sepatutnya!
Adam…mengapa kau hanya membiarkan aku begini? Engkau mahu aku jadi isteri, aku sudah buat. Engkau mahu aku jadi ibu pada anakmu, juga aku telah laksanakan. Engkau mahu aku jadi seorang guru, juga aku anggukkan kepala. Engkau lihat, aku telah menjadi ibu dan guru pada anak-anakmu. Engkau suka kan? Tetapi, pada masa yang sama juga, adakah engkau faham, aku telah menjaja diriku ke muka dunia, menguruskan hal Negara, aku ke hutan memikul senjata…padahal engkau hanya mampu duduk goyangkan kaki, sambil menyanyi lagu Mariah Carey lagi. Seronokkan? Engkau lihat, ada antara kaummu yang mengganggur tiada kerja. Kau perhatikan sahaja aku panjat tangga di pejabat bomba, kainku tinggi menyinsing peha…seksi kan? Tetapi aku masih baik, masih mahu selamatkan Negara kita. Apakah sekarang engkau tidak lagi seperti dulu? Apakah sudah hilang kasih sucimu terhadap perempuan baik seperti aku?
Adam...Marahkah jika ku katakan andainya Hawa terpesong, maka Adam lah puncanya, engkaulah yang patut tanggung! Mengapa begitu Adam?! Ya!! Ramai orang berkata jika anak jahat emak-bapak tak pandai mendidik, kononnya kita ni macam orang tak pernah pergi sekolah. Jika murid bodoh, guru yang tidak pandai mengajar, seolah tak ada sijil universiti lulusan dari Amerika! Adam…kau selalu berkata, hawa memang degil, tak mahu dengar kata, tak suka makan nasihat (sebab kami suka makan coklat ajer), kepala batu (walaupun rambutku pakai syampu sunsilk)! Pada fikiranku ini Adam, seharusnya kau tanya dirimu dahulu, apakah didikanmu terhadapku sama seperti didikan Nabi Muhammad SAW terhadap isteri-isterinya? Memang engkau bukanlah seorang Nabi, tetapi sedarlah bahawa namamu seorang Lelaki?! Engkau kenal siapa itu lelaki? Kau tanya dirimu, adakah kaum Adam melayani kaum Hawa sama adilnya seperti psikologi Muhammad terhadap mereka? Adakah akhlak Adam-Adam boleh dijadikan contoh terhadap kaum Hawa?
Adam…Kau sebenarnya imam dan tentulah aku menjadi makmumnya. Aku adalah pengikut-pengikutmu kerana kau adalah seorang ketua. Tentu kau suka kan Adam-atau lebih patut ke Hawa memanggil diri Adam sebagai Boss? Kau hanya mampu duduk tersengih. Itu sahajakah yang mampu kau hadiahkan? Ketua-jika kau benar, maka benarlah aku. Jika kau lalai, lalailah aku. Kau punya kelebihan akal dan aku banyak dilebihkan dengan nafsu.
Akalmu sembilan (9), nafsumu satu (1)…akalku (1), nafsuku beribu! Banyakkan Adam?! Oleh itu, pimpinlah tanganku kerana aku ini seorang yang pelupa, aku juga lalai dan alpa. Aku banyak kekurangan. Sering juga aku tergelincir ditolak sorang oleh nafsu dan kuncu-kuncunya.
Bimbinglah daku untuk menyelami kalimah Allah. Perdengarkanlah daku mengenai kalimah syahdu daru Tuhan kita agar dapat menjadi terang hidupku ini. Tiuplah roh jihad ke dalam dadaku, agar aku menjadi mujahidah kekasih Allah!
Adam…andainya kau masih lalai dan alpa dengan karenahmu sendiri, masih segan mengikut langkah para sahabat, masih gentar mencegah mungkar, maka kita tunggu dan lihatlah, dunia ini akan kau saksikan hingga menjadi hancur bila kaumu sendiri yang akan mentertawakanmu, kerana pada masa itu tentu kaum Hawa berpeluang memerintah Negara! Malulah engkau Adam! Malulah engkau pada dirimu sendiri dan pada Tuhan kita yang engkau agungkan…Jika hari ini kau tidak mampu berganjak, engkau tunggu dan lihatlah...nantazir wa nara...ilal liqa`
Wallahualam..
6 Dis 2010
Renungkan kesah ini….
Janganlah buat begini, seburuk-buruk anak akan ada baiknya. Semuanya dugaan belaka
MENITIK AIR MATA BILA BACA NI…..
Subject: Ibu Terjahat Didunia – Harus Baca….
20 tahun yang lalu saya melahirkan seorang bayi laki-laki, wajahnya comel tetapi nampak bodoh. Ali, suamiku memberinya nama Yusri. Semakin lama semakin nampak jelas bahawa anak ini memang agak terkebelakang.
Saya berniat mahu memberikannya kepada orang lain saja supaya dijadikan budak atau pelayan bila besar nanti. Namun Ali mencegah niat buruk itu. Akhirnya terpaksa saya membesarkannya juga.
Pada tahun kedua kelahiran Yusri, saya pun melahirkan pula seorang anak perempuan yang cantik. Saya menamakannya Yasmin. Saya sangat menyayangi Yasmin, begitu juga Ali. Seringkali kami mengajaknya pergi ke taman hiburan dan membelikan pakaian anak-anak yang indah-indah…
Namun tidak demikian halnya dengan Yusri. Ia hanya memiliki beberapa helai pakaian lama. Ali berniat membelikannya, namun saya selalu melarang dengan alasan tiada wang. Ali terpaksa menuruti kata saya. Saat usia Yasmin 2 tahun, Ali meninggal dunia. Yusri sudah berumur 4 tahun ketika itu. Keluarga kami menjadi semakin miskin dengan hutang yang semakin bertambah. Saya mengambil satu tindakan yang akhirnya membuatkan saya menyesal seumur hidup. Saya pergi meninggalkan kampung kelahiran saya bersama Yasmin. Saya tinggalkan Yusri yang sedang tertidur lelap begitu saja.
Setahun…,
2 tahun..,
5 tahun..,
10 tahun.. berlalu sejak kejadian itu.
Saya menikah kembali dengan Kamal, seorang bujang. Usia pernikahan kami menginjak tahun kelima. Berkat Kamal, sifat-sifat buruk saya seperti pemarah, egois, dan tinggi hati, berubah sedikit demi sedikit menjadi lebih sabar dan penyayang. Yasmin sudah berumur 15 tahun dan kami menyekolahkan dia di sekolah jururawat.. Saya tidak lagi ingat berkenaan Yusri dan tiada memori yang mengaitkan saya kepadanya.
Hinggalah le satu malam, malam di mana saya bermimpi mengenai seorang anak. Wajahnya segak namun kelihatan pucat sekali. Dia melihat ke arah saya. Sambil tersenyum dia berkata,
“Makcik, makcik kenal mama saya? Saya rindu sekali pada mama!”
Sesudah berkata demikian ia mulai pergi, namun saya menahannya,
“Tunggu…, saya rasa saya kenal kamu. Siapa namamu wahai anak yang manis?”
“Nama saya Yusri, makcik.”
“Yusri…? Yusri… Ya Tuhan! Benarkah engkau ni Yusri???”
Saya terus tersentak dan terbangun. Rasa bersalah, sesal dan pelbagai perasaan aneh yang lain menerpa diri saya pada masa itu juga. Tiba-tiba terlintas kembali kisah yang terjadi dulu seperti sebuah filem yang ditayangkan kembali di kepala saya.
Baru sekarang saya menyedari betapa jahatnya perbuatan saya dulu. Rasanya seperti mahu mati saja saat itu. Ya, saya patut mati…, mati…, mati… Ketika tinggal seinci jarak pisau yang ingin saya goreskan ke pergelangan tangan, tiba-tiba bayangan Yusri melintas kembali di fikiran saya. Ya Yusri, mama akan menjemputmu Yusri, tunggu ya sayang!…
Petang itu saya membawa dan memarkir kereta Civic biru saya di samping sebuah pondok, dan ia membuatkan Kamal berasa hairan. Beliau menatap wajah saya dan bertanya,
“Hasnah, apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa kita berada di sini?”
“Oh, Kamal, kau pasti akan membenciku selepas saya menceritakan hal yang saya lakukan dulu,”
Aku terus menceritakan segalanya dengan terisak-isak… Ternyata Tuhan sungguh baik kepada saya. Ia memberikan suami yang begitu baik dan penuh pengertian. Selepas tangisan saya reda, saya keluar dari kereta dengan diikuti oleh Kamal dari belakang.
Mata saya menatap lekat pada gubuk yang terbentang dua meter dari hadapan saya. Saya mula teringat yang saya pernah tinggal dalam pondok itu dan saya tinggalkannya, Yusri..
Yusri… Di manakah engkau?
Saya meninggalkan Yusri di sana 10 tahun yang lalu. Dengan perasaan sedih saya berlari menghampiri pondok tersebut dan membuka pintu yang diperbuat daripada buluh itu… Gelap sekali… Tidak terlihat sesuatu apapun di dalamnya! Perlahan-lahan mata saya mulai terbiasa dengan kegelapan dalam ruangan kecil itu. Namun saya tidak menemui sesiapa pun di dalamnya. Hanya ada sehelai kain buruk yang berlonggok di lantai tanah.
Saya mengambil seraya mengamatinya dengan betul-betul……. Mata mulai berkaca-kaca, saya mengenali potongan kain itu . Ini adalah baju buruk yang dulu dipakai oleh Yusri setiap hari…
Beberapa saat kemudian, dengan perasaan yang sangat sedih dan bersalah, saya pun keluar dari ruangan itu… Air mata saya mengalir dengan deras. Saat itu saya hanya diam saja. Sesaat kemudian saya dan Kamal mulai menaiki kereta untuk meninggalkan tempat tersebut. Namun, saya melihat seseorang berdiri di belakang kereta kami. Saya terkejut sebab suasana saat itu gelap sekali. Kemudian terlihatlah wajah orang itu yang sangat kotor. Ternyata ia seorang wanita tua. Saya terkejut lagi apabila dengan tiba-tiba dia menegur saya. Suaranya parau.
“Heii…! Siapa kamu?! Apa yang kamu mahu?!”
Dengan memberanikan diri, saya pun bertanya,
“Ibu, apakah ibu kenal dengan seorang anak bernama Yusri yang dulunya tinggal di sini?”
Ia menjawab, “Kalau kamu ibunya, kamu adalah perempuan terkutuk!! Tahukah kamu, 10 tahun yang lalu sejak kamu meninggalkannya di sini, Yusri terus menunggu ibunya dan memanggil, ‘Mama…, mama!’
Kerana tidak tahan melihat keadaannya, kadang-kadang saya memberinya makan dan mengajaknya tinggal bersama saya.
Walaupun saya orang miskin dan hanya bekerja sebagai pemungut sampah, namun saya tidak akan meninggalkan anak saya seperti itu!
Tiga bulan yang lalu Yusri meninggalkan sehelai kertas ini….. Ia belajar menulis setiap hari selama bertahun-tahun hanya untuk menulis ini untukmu…”
Saya pun membaca tulisan di kertas itu…
“mama, mengapa mama tidak pernah kembali lagi…? mama marah pada Yusri, ya? mama, biarlah Yusri yang pergi saja, tapi mama harus berjanji mama tidak akan marah lagi pada Yusri.”
Saya menjerit histeria membaca surat itu.
“Tolong bagi tahu.. di mana dia sekarang? Saya berjanji akan menyayanginya sekarang! Saya tidak akan meninggalkannya lagi! Tolonglah cakap…!!!”
Kamal memeluk tubuh saya yang terketar-ketar dan lemah.
“Semua sudah terlambat (dengan nada lembut). Sehari sebelum kamu datang, Yusri sudah meninggal dunia. Dia meninggal di belakang pondok ini. tubuhnya sangat kurus, ia sangat lemah. Hanya demi menunggumu ia rela bertahan di belakang pondok ini tanpa berani masuk ke dalamnya. Dia takut apabila mamanya datang, mamanya akan pergi lagi apabila melihatnya ada di dalam sana … Dia hanya berharap dapat melihat mamanya dari belakang pondok ini… Meskipun hujan deras, dengan keadaannya yang lemah ia terus berkeras menunggu kamu di sana. Dosa kamu tidak akan terampun!”
Saya kemudian pengsan dan tidak ingat apa-apa lagi. Semoga menjadi pelajaran bagi kita sebagai orang tua ataupun bagi yang akan berkahwin. Janganlah menyalahkan apa yang sudah diberikan oleh Allah. Tetapi hargailah apa yang diberikan oleh Allah. Dan cuba bersabar. Kerana DIA tidak akan memberikan sesuatu apapun dengan sia-sia.
Moral of the story – sayangi orang di sekitar anda. kita tidak tahu siapa yang benar benar menyayangi kita…………
Berita Terkini
-
Pengedar dadah warga Thailand bersenjatakan api senjata - LANGKAWI - Polis merampas sepucuk pistol jenis Browning dan lima butir peluru daripada seorang warganegara Thailand yang disyaki pengedar dadah dalam serbu...8 tahun yang lalu
-
ASEAN bentuk pasaran bersepadu mulai tahun depan - MILAN 17 Okt. - Datuk Seri Najib Tun Razak berkata, mulai tahun depan, rantau Asia Tenggara akan membentuk satu pasaran bersepadu dikenali sebagai Komuniti...11 tahun yang lalu
-
-
-










